Selasa, 10 Juni 2025

Fomo: Kehidupan Remaja Zaman Now yang Selalu Mengikuti Standar Media Sosial



Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi para remaja. Terutama platform seperti Instagram dan Tiktok bukan hanya tempat untuk berbagi momen, tetapi juga telah berubah menjadi “cermin” yang menciptakan standar baru tentang bagaimana seharusnya seseorang tampil, bersikap, bahkan bermimpi.

Remaja zaman sekarang kerap mengukur nilai (value) dirinya berdasarkan jumlah like, followers, atau seberapa sering mereka muncul di halaman explore atau biasa dikenal dengan FYP. Standar kecantikan, gaya hidup, bahkan cara berpakaian seringkali ditentukan oleh tren yang sedang viral. Sayangnya, banyak dari tren tersebut tidak realistis atau bahkan bertentangan dengan nilai-nilai budaya dan agama yang dianut. Akibatnya, banyak remaja merasa tidak cukup baik, tidak keren, atau tertinggal zaman hanya karena tidak bisa mengikuti standar tersebut. Mereka mulai kehilangan jati diri dan merasa harus menjadi orang lain demi mendapatkan pengakuan.

Fenomena biasa disebut dengan istilah "FOMO" yang bisa berdampak besar pada kesehatan mental remaja. Tekanan untuk tampil sempurna dan mendapatkan validasi sosial menimbulkan stres, kecemasan, bahkan depresi. Banyak remaja yang membandingkan hidupnya dengan “hidup sempurna” dari para seleb atau konten kreator yang mereka lihat di media sosial, tanpa menyadari bahwa apa yang ditampilkan hanyalah sebagian kecil dari realitas yang telah melalui banyak proses edit.

Budaya media sosial juga mendorong gaya hidup konsumtif dan pamer. Tak sedikit remaja yang rela berhutang atau memaksakan diri membeli barang mahal bahkan menyewa barang hanya demi tampil eksis. Kehidupan sederhana, syukur, dan proses belajar untuk menjadi pribadi yang baik perlahan mulai ditinggalkan, tergantikan oleh ambisi mengejar "validasi" netizen.

Namun tidak semua tentang media sosial itu buruk. Platform ini juga bisa menjadi tempat belajar, berekspresi, menjalin relasi positif, bahkan berbisnis. Asalkan kita mempunyai kesadaran dan dan bisa mengontrol diri. Remaja perlu dibekali literasi digital yang cukup agar mampu memilah mana konten yang sehat dan mana yang hanya ilusi. Orang tua, guru, dan lingkungan sekitar juga harus hadir sebagai pendamping yang menguatkan, bukan hanya menghakimi.

Menjadi remaja zaman now bukan berarti harus mengikuti segala trend dan standar media sosial. Jadilah diri sendiri, kenali potensi dan keunikan pribadi. Media sosial seharusnya menjadi alat, bukan penguasa hidup. Karena pada akhirnya, nilai dirimu tidak ditentukan oleh jumlah like, tapi oleh seberapa penting kamu hidup dan bermanfaat bagi sekitarmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Busmania, Hobi yang Kerap Dipandang Sebelah Mata oleh Sebagian Orang

Bagi sebagian orang, menyukai bus dan segala hal tentangnya mungkin terdengar aneh, bahkan dianggap sebagai sesuatu yang tidak bergengsi. Na...